Hotel yang dikelola oleh Artotel Group, ARTOTEL Gelora Senayan gelar Art Exhibition bertajuk Mirage dengan memamerkan sejumlah lukisan.
Pada bulan Juli ini, ARTOTEL Gelora Senayan mempersembahkan pameran seni perdananya pada tahun 2026.
Mengusung tema Mirage, pameran ini berkolaborasi dengan J+ Art Awards 2026 yang diinisiasi oleh Connected Art Platform.
ARTOTEL Gelora Senayan adalah salah satu hotel berbintang yang dikelola oleh manajemen operator hotel terkemuka Artotel Group.
Hotel ini berada di kawasan Gelora Bung Karno, tidak jauh dari Stadion GBK dan fasilitas olahraga di area tersebut.
Selain itu, lokasinya juga dekat dengan Jalan Jenderal Sudirman dan kawasan niaga terpadu (central business district) Sudirman.
ARTOTEL Gelora Senayan Gelar Art Exhibition Bertajuk Mirage dari Sejumlah Pelukis Muda di Indonesia
Mirage menghadirkan beragam respons artistik terhadap cara manusia memaknai realitas di tengah perubahan sosial, budaya, dan teknologi yang terus berlangsung.
Melalui tema ini, para seniman menghadirkan perspektif yang beragam terhadap berbagai isu yang dekat dengan kehidupan manusia masa kini.
Pameran di ARTOTEL Gelora Senayan ini menghadirkan sepuluh karya dari sembilan seniman terpilih. Mereka mengangkat tema dari sudut pandang masing-masing.
Adril Wak Yong melalui karyanya “Patah Kemudi” mengangkat pencarian identitas budaya Melayu di tengah krisis jati diri.
Sementara, Agung Bule lewat karya “KUNING #82” mengeksplorasi proses melukis yang intuitif sebagai ruang bagi ketidakpastian dan pengalaman batin.
Dalam Sound of Nature (Sea Series), Camelia Mitasari Hasibuan memaknai laut sebagai ruang genealogis yang menyimpan suara-suara kehidupan dan keberlanjutan,
Sedangkan, Minji Sani melalui The Pseudo-Stage: A Shelter of Memory menghadirkan kritik terhadap rapuhnya ruang domestik di tengah modernisasi dan tekanan sosial-politik.
Berbagai Tema Muncul Berasal dari Perjalanan Emosi, Hubungan dengan Alam, Hingga Budaya dalam Masyarakat
Mivetboi melalui “MONOLOG RUANG TENGAH” dan “Kembali Senja” merefleksikan perjalanan emosi serta proses kembali mengenal diri sendiri melalui ruang kontemplasi.
Sementara, Mochamad Rizky Aditya melalui Ecology without Nature mengajak audiens meninjau kembali cara manusia memahami hubungan dengan alam.
Pada sisi lain, Patricia Geraldine Thebez dalam The Weight of What Remains merekonstruksi ingatan personal sekaligus menyoroti isu kekerasan dan pengalaman perempuan,
Raka Hadi Permadi melalui karyanya “Alok-Aruh” merefleksikan memudarnya budaya saling menyapa dalam kehidupan masyarakat.
Yung Finando melalui “Urgent” menghadirkan lanskap sureal yang menggambarkan kecemasan manusia di tengah derasnya arus informasi sekaligus kerinduan akan ruang yang lebih tenang.
Pameran ini sudah dapat dinikmati hingga 24 Oktober 2026 di ARTOTEL ARTSPACE Lobby Level, tanpa dipungut biaya.
Kalau kamu memang pemerhati seni, saatnya untuk mendatangi pameran lukisan yang diselenggarakan oleh ARTOTEL Gelora Senayan.
Sebelumnya, terdapat penjabaran tentang MYZE Hotel Waingapu memberikan promo untuk tamu yang menggunakan TransNusa. Artotel Group ingin memberikan layanan terbaik.
Jangan lewatkan paparan soal ARTOTEL Casa Kuningan memberikan pengalaman hiburan yang personal. Artotel Group menghadirkan showcase bersama musisi Badai.
Tidak ketinggalan, terdapat ulasan mengenai Mangkuluhur ARTOTEL Suites menghadirkan Weekend Getaway dan Suite Escape. Artotel Group menawarkan pilihan liburan yang lebih lengkap.
Situs Investasiproperti.id selalu menghadirkan konten yang menarik mengenai pameran karya seni yang diselenggarakan oleh manajemen operator hotel.














