Konsultan properti Knight Frank ungkap perkantoran di Jakarta semester 1 2026 yang membahas soal pasokan hingga harga sewa.
Di tengah berbagai tantangan ekonomi yang terus berlanjut, baik dari ranah lokal, regional, maupun global memberikan dampak cukup signifikan terhadap pertumbuhan performa berbagai sektor bisnis, termasuk sektor properti.
Sektor perkantoran merupakan salah satu benchmark utama dalam menilai performa bisnis dan industri properti komersial.
Kinerja sektor ini tidak hanya mencerminkan dinamika pasar properti, tetapi juga menjadi indikator arus investasi, ekspansi dunia usaha, serta penciptaan lapangan kerja.
Hal tersebut juga belum termasuk multiplier effect yang dihasilkan dan berkontribusi dalam mendorong berbagai sektor turunan.
Transaksi sewa ruang kantor pada paruh pertama tahun 2026 ini tidak hanya terjadi dari tenant lama, tetapi juga tenant baru yang datang, baik dari lokal maupun global tenant.
Sementara itu, tenant dari sektor pemerintah cukup mendominasi serapan ruang kantor di CBD (central business district) Jakarta saat ini.
Gedung Perkantoran Ramah Lingkungan di Kawasan Bisnis Jakarta Menjadi Incaran Para Penyewa Baru
Saat ini, tren relokasi terlihat lebih intensif di pasar properti perkantoran. Hal ini terjadi karena flight to quality terus menjadi pertimbangan utama bagi para occupier (penyewa).
Gedung kantor dengan kualitas dan akses premium dengan berbagai fleksibilitas yang ditawarkan landlord atau pemilik menjadi salah satu objek yang diburu oleh occupier.
Green Office tetap dengan daya tawarnya yang tinggi memberikan warna tersendiri terhadap persaingan pasar properti perkantoran di CBD Jakarta.
Tercatat, stok green office dengan komposisi 37% dari total stok perkantoran CBD, mampu menjadi magnet bagi 41% tenant baru CBD yang mengisi green office saat ini.
Green office yang ramah lingkungan memang menjadi daya tarik apalagi bagi perusahaan yang menerapkan ESG (Environmental, Social, and Governance).
Ruang perkantoran ini tidak hanya hemat energi, air, dan limbah, tetapi bisa meningkatkan produktivitas karyawan lantaran memiliki udara bersih dan cahaya alami.
Selain itu, gedung perkantoran seperti ini juga memberikan daya tarik investasi lantaran investor global memang menerapkan ESG.
Perusahaan Konsultan Properti Knight Frank Ungkap Perkantoran di Jakarta Semester 1 2026 yang Perlu Diketahui
Berikut ini, terdapat sejumlah informasi pembaruan performa pasar perkantoran di CBD Jakarta menurut data dari Knight Frank Indonesia.
Terungkap kalau sektor perkantoran, bahwa pasokan ruang kantor di CBD Jakarta masih tetap pada kisaran 7.326.495 m2 (meter persegi).
Tingkat hunian atau okupansi gedung perkantoran terus menunjukan pemulihan, meski perlahan, tetapi tercatat meningkat tipis menjadi 80%.
Rerata harga sewa perlahan terus menguat 3% secara YoY (year on year), sedangkan serapan ruang sepanjang tahun 2025 mencapai 47.466 m2.
Potential occupier atau para penyewa datang dari sektor government, mining & oil, IT, logistic, and energy related (pemerintah, gas dan minyak, teknologi informasi, logistik, dan energi).
Stok ruang perkantoran tetap dalam tiga tahun terakhir, diperkirakan akan mulai kembali bertambah pada tahun 2028, setelah ada gedung perkantoran yang selesai dibangun.
Knight Frank Menerangkan Tren Pemulihan Sektor Perkantoran di Kawasan Bisnis Jakarta Akan Terus Berlanjut
Country Head Knight Frank Indonesia Willson Kalip memberikan pernyataan mengenai ulasan perkantoran di Jakarta pada semester 1 2026.
“Ke depan, flexibility dan adaptasi terhadap kualitas green amenities menjadi faktor pembeda,” kata Kalip seperti dikutip dari keterangan tertulis yang diterima oleh Investasiproperti.id.
“Dengan pasokan yang masih akan tetap dalam 2 tahun ke depan maka tren pemulihan performa perkantoran CBD berpotensi berlanjut, tentu didukung stabilitas sosial dan ekonomi yang lebih kondusif,” lanjutnya.
Saat perekonomian stabil, biasanya banyak perusahaan yang melakukan ekspansi dan memerlukan ruang perkantoran yang lebih besar.
Sebelumnya, terdapat penjabaran soal Knight Frank menjelaskan ritel premium di Jakarta pada 2025 yang mengungkapkan daya beli kelas menengah melemah.
Jangan lewatkan paparan mengenai Knight Frank menjelaskan kondominium Jakarta semester 1 2025. Transaksi terbesar sektor ini masih berasal dari kelas menengah.
Tidak ketinggalan, terdapat uraian perihal Knight Frank menjelaskan tantangan kebijakan tarif AS ke sektor properti Indonesia yang bisa melemahkan transaksi pasar.
Situs Investasiproperti.id selalu menyajikan konten yang menarik mengenai ulasan konsultan properti mengenai pasar perkantoran di Jakarta.















