Konsultan properti Cushman & Wakefield prediksi prospek pasar properti Asia Tenggara yang masih dilirik oleh investor internasional.
Perekonomian Indonesia diperkirakan akan mengalami pertumbuhan PDB (Produk Domestik Bruto) yang sehat pada 2025, didorong oleh konsumsi domestik yang kuat dan ekspansi ekspor.
Stabilitas makroekonomi menjadi kunci bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia, dengan inflasi yang terjaga sekitar 3% dan defisit fiskal yang diturunkan menjadi 2,7% dari PDB.
Asia Tenggara tetap menjadi tujuan investasi utama, dengan momentum ekonomi yang stabil, dan proyeksi pertumbuhan PDB sebesar 4,8% pada 2024, melampaui pertumbuhan 3,9% yang tercatat pada 2023.
Beberapa ekonomi besar di kawasan ini, termasuk Vietnam, Malaysia, dan Filipina, melebihi proyeksi pertumbuhan awal, semakin memperkuat ketahanan Asia Tenggara dalam menghadapi tantangan global.
“Meski ada ketidakpastian di lanskap global akibat situasi tarif yang terus berkembang, fundamental ekonomi Asia Tenggara tetap stabil, dengan konsumsi domestik yang tangguh dan kelas menengah yang terus berkembang,” ujar Head of Research Singapore & Southeast Asia Wong Xian Yang seperti dikutip keterangan tertulis yang diterima oleh Investasiproperti.id.
“Kawasan ini siap untuk menarik aliran investasi yang berkelanjutan, terutama di sektor-sektor dengan pertumbuhan tinggi,” lanjutnya.
“Sektor industri dan data center akan tetap menjadi prioritas utama bagi investor institusional, dengan semakin banyaknya modal yang dialokasikan untuk logistik, life sciences, dan infrastruktur digital berbasis AI (Artificial Intelligence),” katanya lagi.
Perusahaan Konsultan Properti Cushman & Wakefield Prediksi Prospek Pasar Properti Asia Tenggara
Investasi di sektor perkantoran di Singapura dan Indonesia juga semakin meningkat, karena investor memanfaatkan keterbatasan pasokan di masa depan dan meningkatnya permintaan korporasi untuk ruang kerja berkualitas tinggi.
Investasi lintas negara diperkirakan akan menguat, didorong oleh inisiatif seperti Kawasan Ekonomi Khusus Johor-Singapura (JS-SEZ) dan perjanjian perdagangan intra-ASEAN yang semakin berkembang.
“Ketahanan dan posisi strategis Asia Tenggara menjadikannya tujuan utama bagi modal global, tetapi bisnis harus tetap gesit di tengah pergeseran makroekonomi,” kata Wong Xian.
“Dengan fundamental ekonomi yang kuat, keunggulan biaya kawasan ini, diversifikasi rantai pasokan, dan perdagangan antarwilayah yang berkembang akan terus mendorong pertumbuhan investasi dan properti jangka panjang,” lanjutnya.
“Menavigasi ketidakpastian global dengan pendekatan strategis akan menjadi kunci kesuksesan pada 2025 dan seterusnya,” katanya lagi.
Jangan lewatkan konten ulasan dari Cushman & Wakefield yang membahas dominasi industri manufaktur China sekaligus tantangan dan peluang bagi Indonesia.
Situs Investasiproperti.id selalu menyuguhkan konten yang menarik mengenai pembahasan pasar properti di kawasan Asia Tenggara.















